Menyala Belitungku! Paslon IM (Isyak – Masdar) Nomor urut 2!

TANJUNGPANDAN, RJN – Hujan datang mengguyur kota Tanjungpandan di halaman kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kab. Belitung, tapi tidak memadamkan api semangat para Pasangan Calon beserta partai pendukung dan simpatisan untuk menghadiri Rapat Pleno Terbuka – Pengumuman dan Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Peserta Pemilukada Serentak 2024.
Acara pengambilan nomor urut Paslon Bupati dan Wakil Bupati ini diselenggarakan hari senin sore, 23 September 2024. Turut hadir juga Bawaslu Kab. Belitung, unsur Forkopimda beserta jajaran.
Dr. Isyak Meirobie,S.Sn.,M.Si. dan Drs. H. Masdar Nawawi,M.M. dari Paslon IM (Isyak – Masdar) datang terakhir setelah dua Paslon lainnya telah hadir. Artinya dari tiga Pasangan Calon, Dr. Isyak maupun H. Masdar adala yang ke-tiga atau yang terakhir berangkat ke KPU Kab. Belitung.
Setelah Amir Husin selaku Ketua KPU Kab. Belitung menetapkan proses pengambilan nomor urut, di dalam undian, Paslon IM (Isyak – Masdar) dapat di urutan kedua (2) untuk memilih tipak* yang disediakan.
Dr. Isyak dalam wawancaranya mengatakan, dia bertanya kepada H. Masdar mengenai tipak urutan ke berapa yang harus diambil. H. Masdar mengatakan : “Ambil yang ketiga atau yang terakhir, karena kita datangnya terakhir.”
Ternyata tipak yang ketiga itu menyimpan nomor urut 2. Mengenai hal ini Dr. Isyak langsung terlihat amat senang karena di dalam lubuk hatinya, nomor urut 2 menandakan sesuatu.
“Membangun daerah harus selalu sama sama, kompak berdua, itu sudah pasti. Sendal pun sepasang, semua diciptakan sepasang. Jadi artinya kita harus tetap kompak,” perjelasnya kemudian.
Dr. Isyak mengatakan lagi syarat membangun daerah biar bisa ‘Menyala Kembali’ harus berdua. Intinya tidak ada kekhawatiran dari Paslon IM (Isyak – Masdar) setelah mendapatkan nomor urut ini, malah justru seperti berkah atau pertanda keberhasilan ke depan. Begitulah yang dipikirkan oleh Dr. Isyak ataupun H. Masdar.
tipak adalah salah satu produk kebudayaan, sebuah kotak persegi panjang yang pada zaman dahulu dijadikan alat untuk menyimpan sirih bagi masyarakat melayu Belitung. (TIM)
