Guru Telah Berpulang, Ilmunya Tetap Menyala: Kearifan Lokal Religi dalam Tradisi Khataman 30 Juz Al-Qur’an, Tawasul, dan Ziarah Kubur Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun

Jejak Bakti yang Tak Pernah Usai

KABUPATEN TANGERANG,– Tradisi penghormatan kepada guru terus hidup di tengah masyarakat pesantren Kabupaten Tangerang. Sehari setelah pelaksanaan Haul ke-21 Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun, ratusan alumni, santri, keluarga, serta masyarakat kembali berkumpul di kawasan makam Kedongdong, Kampung Betong, Desa Gandaria, Kecamatan Mekar Baru, untuk melanjutkan rangkaian tawasul, ziarah kubur, dan khataman 30 juz Al-Qur’an sebagai wujud bakti kepada sang guru sekaligus menjaga warisan sanad keilmuan Islam. Minggu, 26 Juli 2026

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga 15.30 WIB tersebut merupakan tradisi kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun di lingkungan pesantren. Nilai-nilai religius yang berpadu dengan budaya lokal menjadikan kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan media pendidikan akhlak, penghormatan kepada guru, dan penguatan ukhuwah Islamiyah.

Rangkaian diawali dengan tawasul dan ziarah kubur di makam Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun. Selanjutnya dilaksanakan khataman 30 juz Al-Qur’an dengan metode khas pesantren, di mana setiap santri membaca satu juz secara bersamaan, mulai juz pertama hingga juz ke-30. Dalam satu majelis, seluruh Al-Qur’an berhasil dikhatamkan dan pahala bacaannya dihadiahkan kepada Almaghfurlah serta para masyayikh yang telah wafat.

Rangkaian ibadah dipimpin oleh H. Nursaman, S.Pd.I., sesepuh sekaligus Pimpinan Nurul Falah Rawawaluh, bersama Pimpinan Pondok Pesantren MTNI Ust. Syafiullah. Turut hadir dan mengikuti kegiatan para tokoh agama, di antaranya Ust. Firdaus, Ust. Matin, Ust. Zainal Abidin, Ust. Boeti, H. Halimi, Ust. Torun, Ahmad Saepullah dari keluarga besar KH. Arjaya, Ust. Iippudin, Ust. Karim, Ust. Abdul Fatah, serta segenap santri Pondok Pesantren MTNI.

Di bawah rindangnya pepohonan makam Kedongdong, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema mengiringi doa dan tawasul. Suasana yang khusyuk dan penuh haru mencerminkan kuatnya hubungan spiritual antara guru dan murid yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat pesantren di Kecamatan Mekar Baru.

Pimpinan Pondok Pesantren MTNI, Ust. Syafiullah, menegaskan bahwa tradisi tersebut merupakan warisan para ulama yang harus terus dijaga sebagai bagian dari pendidikan Islam.

“Guru telah menyampaikan ilmu ketika masih hidup. Setelah beliau wafat, sudah menjadi adab seorang murid untuk terus mendoakan gurunya. Membaca Al-Qur’an, bertawasul, dan berziarah bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga ikhtiar menjaga keberkahan ilmu agar tetap hidup di tengah generasi penerus,” tuturnya.

Ia menambahkan, hubungan guru dan murid tidak pernah terputus oleh kematian. Selama ilmu diamalkan, adab dijaga, dan doa terus dipanjatkan, maka sanad keilmuan akan tetap hidup dan menjadi cahaya bagi generasi berikutnya.

Sementara itu, H. Nursaman, S.Pd.I. menyampaikan bahwa Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun mewariskan nilai keikhlasan, kesederhanaan, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan pengabdian kepada umat. Warisan tersebut kini menjadi tanggung jawab para santri, alumni, dan masyarakat untuk terus dijaga dan diamalkan.

Tradisi tawasul, ziarah kubur, dan khataman Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap tahun tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada guru, tetapi juga menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Islam di Tangerang tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. Nilai-nilai adab, sanad keilmuan, dan ukhuwah yang diwariskan para ulama terus menjadi fondasi dalam membangun generasi yang berilmu dan berakhlakul karimah.

‎اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون وهذا متفق على استحبابه وهو عادة الأخيار والمتعبدين وعباد الله الصالحين وهى سنة ثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Ketahuilah, banyak kelompok ulama salaf meminta para qari untuk membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu. Sementara mereka khusyuk mendengarkannya (menyimak). Ulama bersepakat atas anjuran khusyuk menyimak bacaan Al-Qur’an. Ini merupakan kebiasaan orang-orang baik, ahli ibadah, dan orang-orang saleh. Hal ini merupakan sunnah yang tetap dari Nabi Muhammad saw,” (Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, [Kairo, Darus Salam: 2020 M/1441 H], halaman 96-97). 


Imam An-Nawawi mengutip hadits dari Al-Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan bahwa Rasulullah saw meminta sahabat ahli Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud membacakan Al-Qur’an untuk Rasulullah saw sendiri.


‎
فقد صح عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقرأ علي القرآن فقلت يا رسول الله أقرأ عليك وعليك أنزل قال إني أحب أن أسمعه من غيري فقرأت عليه سورة النساء حتى إذا جئت إلى هذه الآية فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍ ۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًا) قال حسبك الآن فالتفت إليه فإذا عيناه تذرفان رواه البخاري ومسلم

Artinya, “Sebuah hadits sahih dari sahabat Ibnu Mas’ud ra menyebutkan, ‘Rasulullah berkata kepadaku, ‘Ibnu Mas’ud, bacakanlah Al-Qur’an untukku.’ Aku menjawab, ‘Ya Rasulullah, mana bisa kubacakan Al-Qur’an kepadamu. Sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?’ ‘Aku suka mendengar bacaan Al-Qur’an dari orang lain,’ jawab Nabi Muhammad saw. Aku pun mulai membacakannya Surat An-Nisa. Tetapi ketika bacaanku sampai ‘Fa kaifa idzā ji’nā min kulli ummatin bi syahīd. Wa ji’nā bika ‘alā hā’ulā’i syahīdā,’ (Surat An-Nisa ayat 41), ‘Bagaimanakah (keadaan manusia kelak pada hari Kiamat) jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi atas mereka?’ Rasulullah saw menyela, ‘Cukup sampai sini!’ Aku pun menoleh kepadanya dan kusaksikan air mata menetes dari kedua mata Rasulullah,’” (HR Al-Bukhari dan Muslim),” (Imam An-Nawawi, 2020 M/1441 H: 97).



Demikian adab Rasulullah saw ketika mendengarkan pembacaan Al-Qur’an oleh sahabatnya. Hal ini menjadi dasar anjuran bagi kita untuk menghadirkan orang lain/qari/qariahmembacakan Al-Qur’an dan anjuran untuk menjaga adab ketika mendengarkan pembacaan Al-Qur’an. Wallahu a‘lam.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Bagi keluarga besar Pondok Pesantren MTNI dan para alumni, haul bukanlah akhir sebuah peringatan, melainkan awal untuk terus merawat amanah ilmu, menjaga sanad, memperkuat ukhuwah, dan melanjutkan perjuangan dakwah para ulama. Sebab, guru boleh berpulang, namun cahaya ilmunya akan tetap menyala selama masih ada murid yang membaca Al-Qur’an, mengamalkan ilmunya, serta menjaga adab kepada guru. (*)

Penulis : Imron R, C. BJ (Bocah Angon)

Catatan Redaksional | Berita Mendidik Citra Bangsa Dan Negara
“Sanad yang Menjaga Peradaban: Warisan Pendidikan KH. Nurdin bin KH. Sikun dalam Membentuk Generasi Berilmu, Beradab, dan Berakhlakul Karimah.”