Peristiwa Tragedi Konflik Antarsuku di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

Foto : Dok. Istimewa
Netralitas Informasi Penyajian ini disusun berdasarkan kesaksian langsung peliputan dan uraian peristiwa, bertujuan menyampaikan fakta secara berimbang tanpa memihak satu pihak.

Istilah Tragedi Sambas Berdarah umumnya merujuk pada dua peristiwa penting di wilayah tersebut:
1. Kerusuhan Antaretnis Tahun 1999 (sering disebut Tragedi Sambas)

2. Peristiwa 27 Oktober 1945 (Hari Perjuangan Rakyat Sambas)
Kesaksian Langsung Peliputan: 7 April 1999
Liputan Sambas, Jumat 19 Maret 1999
Dor, dor, dor… Suara tembakan berkali-kali memekakkan telinga. Saat itu saya keluar dari mobil dinas Daihatsu Rocky milik Kantor Harian Kompas Kalimantan Barat dan segera berlindung. Tembakan terus terdengar selama sekitar 20 menit.
Massa yang sebelumnya memaksa masuk ke dalam, duduk di dalam maupun di atas kap mobil, langsung berhamburan menjauh.
Sebelumnya, sekelompok orang bersenjata telah “membajak” kendaraan tersebut. Saya tetap tenang dan terus menyetir sesuai arahan mereka, yang berniat pergi ke Markas Polres Sambas untuk menekan aparat agar melepaskan rekan mereka yang ditahan. Beberapa orang duduk menghalangi pandangan di bagian depan kendaraan sambil berteriak ke luar.
Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 7 April 1999. Sejak pertikaian meletus pada Februari 1999, saya berusaha mendatangi lokasi.
Tujuan awal saya menuju Polres Sambas di Singkawang untuk meminta keterangan langsung dari Kapolda Kalimantan Barat saat itu, Kolonel Chaerul Rasjidi, yang diketahui berada di lokasi.
Baru berjalan beberapa ratus meter, suara tembakan terdengar. Ternyata di Desa Sungaigaram, Kecamatan Tujuhbelas, Pasukan Anti-Huru-Hara telah menghadang.
Massa yang datang dengan truk, sepeda motor, dan berjalan kaki berusaha menerobos pagar betis aparat.
Di situ polisi melepaskan tembakan peringatan dan peluru tajam.
Pengamanan dipimpin langsung oleh Kapolda Chaerul Rasjidi bersama Komandan Korem 121, Kolonel Encip Kadarusman.
“Saya tidak bisa memenuhi tuntutan massa melepaskan tersangka. Penangguhan penahanan harus melalui prosedur hukum,” tegas Chaerul.
Peristiwa itu memakan korban: dari 11 orang yang gugur, 8 terkena peluru karet dan 3 terkena peluru tajam.
“Saya mendapat perintah tegas dari Menhankam dan Kapolri untuk bertindak. Tembakan dilepaskan karena massa berusaha menabrak pasukan dengan truk—kondisinya sudah sangat tidak terkendali,” tambahnya. Hari itu sebanyak 15 orang diamankan.
Setelah peristiwa reda, Kapolda menepuk pundak saya dan berkata, “Anda memang pemberani.” Ucapan itu mengingatkan saya bahwa selama meliput, saya berpegang pada niat baik, liputan yang adil, dan doa agar senantiasa dilindungi.
Kolonel Encip juga berpesan agar selalu berhati-hati mengingat situasi yang sulit diprediksi.
Peristiwa ini menjadi bagian tak terlupakan dalam perjalanan jurnalistik saya. Sejak bertugas sebagai Kepala Biro Kompas Kalimantan Barat tahun 1997, saya sudah mendengar potensi gesekan di wilayah ini, namun tidak membayangkan akan meliputnya secara langsung.
Kerusuhan muncul secara sporadis pada Januari–Februari 1999, lalu meluas pada Maret 1999, bertepatan dengan masa transisi pemerintahan dari Orde Baru ke Reformasi.
1. Kerusuhan Sambas 1999
Konflik besar yang meletus awal tahun 1999 antara masyarakat lokal (Suku Melayu dan Dayak) dengan kelompok pendatang dari Madura.
Latar belakang: Terbentuk dari akumulasi ketegangan sosial, kesenjangan ekonomi, serta persaingan sumber daya dan mata pencaharian.
Dampak: Ratusan jiwa meninggal dunia, ribuan rumah dibakar, dan terjadi pengungsian besar-besaran warga etnis Madura.
Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu konflik komunal terberat dalam sejarah Indonesia.
Sumber referensi: Terdokumentasi dalam berbagai kajian sosial dan sejarah, termasuk penelitian dari UIN Sunan Kalijaga.
2. Peristiwa 27 Oktober 1945
Diperingati oleh masyarakat Sambas sebagai hari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman.
Latar Belakang Konflik 1999
Konflik melibatkan Suku Melayu sebagai penduduk asli, dan Suku Madura yang mulai bermukim di Kalimantan Barat sejak tahun 1960-an. Awalnya hubungan berjalan harmonis: saling menyambut, bertetangga, bekerja sama
