Dituding “PENDETA ASUSILA” JW VS NSL: Mengakui Hamil 7 Bulan lalu Aborsi, Ada Saksi & Penyidik Polda Sulut Dituduh Terima Suap & Lambat Proses!

JAKARTA, H&K l Sekian kalinya saya sampaikan kepada Bapak Kapolda, Kapolri, dan seluruh masyarakat: laporan ini bukan masalah biasa, tapi kasus berat — tindak pidana asusila, hubungan gelap, dan aborsi bayi berumur 7 bulan.

Pelakunya: Pendeta JW (JW, Ketua Umum Pendeta Dokter) dan Pendeta NSL — dan yang paling mengejutkan: Pendeta NSL sendiri mengakui bahwa dia hamil 7 bulan hasil hubungan badan berulang kali dengan JW, lalu janin itu digugurkan, nyawa anak yang tidak berdosa dirampas.
Bagi saya, penyidik di Polda Sulawesi Utara justru menjadi penghambat keadilan. Sudah 9 bulan laporan saya tidak naik, macet di tempat.
Saya telepon lebih dari 20 kali, kirim WA, minta nomor lain, datang langsung tanggal 14 Oktober 2025 — semua ditolak, tidak dijawab, sangat arogan.
Padahal sejak awal saya serahkan semua bukti lengkap: foto, rekaman, petunjuk, lokasi kuburan/lubang, keterangan saksi, dan pengakuan langsung NSL.
Tapi alasan mereka: “tidak ada bukti”, padahal bukti sudah ada semua, tinggal diperiksa — sengaja tidak mau kerjakan.
Ada apa di balik ini? Kabar kencang beredar: penyidik terima uang 100 juta sampai 175 juta rupiah untuk menutup kasus ini.
Memang suap sulit dibuktikan, mana ada orang mau ngaku, tapi perilaku mereka bicara sendiri.
Kemarin Senin 20 Oktober 2025 saya temui langsung Penyidik Aida Mulyadi, Kasubdit, Kanit.
Saya tanya: “Kenapa belum diproses?” Jawabnya santai: “Pak, tidak ada biaya operasional, masih tahap penyelidikan saja”.
Saya langsung balas tegas: “Tahun 2025 anggaran Polri 1.206 triliun rupiah, khusus penyelidikan/penyidikan.
Kalau dipotong 20% masih sisa 106 triliun — itu masih kurang? Kalau kurang, lapor ke presiden minta tambah! Uang itu katanya untuk biaya keliling dan gaji kalian?” Dia diam, berani sekali bicara begitu di Manado, seolah negara miskin padahal anggaran melimpah — ini alasan palsu, pemerasan rakyat, cari uang tambahan!
Penyidik ini, Aida Mulyadi dan timnya, menurunnya wibawa Polri. Padahal tugasnya cari kebenaran, malah melindungi oknum pendeta pendosa.
JW sebagai tokoh agama, Ketua Umum, bergelar Dokter malah melakukan hubungan gelap berulang kali, membuat NSL hamil 7 bulan, lalu aborsi.
NSL sudah ngaku sendiri: “Hamil sama JW, dia sering datang ajak berhubungan badan” “bukti paling kuat, pengakuan langsung pelaku!
Saya sudah lapor ke Komnas HAM → dijawab: “Setetes darah janin 7 bulan pun sudah dilindungi hukum”.
Lapor ke Komisi Perlindungan Anak → dijawab: “Aborsi ini merampas hak hidup anak yang tidak berdosa, pelaku harus dihukum”.
Lapor ke Bareskrim Mabes Polri Februari 2025, dirujuk ke Polda Sulut — 8–9 bulan diam saja.
Saya juga sampaikan ke Tim Reformasi Transformasi Polri, minta penyidik ini dicopot dengan tidak hormat.
Bapak Kapolri pernah bilang: “Kalau ekor tidak bisa diatur, kepalanya saya potong” — sekarang buktikan! Di Sulawesi Utara banyak kasus mati langkah karena aparatnya korup dan arogan. Mau tunggu apa lagi?
Kepada seluruh pendeta GPDI: Kalian yang undang JW berkhotbah, kalian yang diam saja, kalian yang diamkan dosa, kalian berkompromi dengan dosa, menyesatkan jemaat, menghalalkan perselingkuhan & aborsi.
Kalian bergelar Dokter tapi tidak punya takut Tuhan. Tidak ada alasan lagi, ini sudah keterlaluan.
Kepada teman jurnalis, aktivis, media, LSM Laporan saya diremehkan, diabaikan, dibungkam.
Sejak Juli 2025 tidak dapat kabar, telepon ke pembantu penyidik Ronaldo puluhan kali tidak diangkat, pesan ke Kanit Herdi tidak dibalas.
Padahal saya rakyat yang bayar pajak, bayar gaji mereka kok jadi musuh?
Ini jelas melanggar UU No.14 Tahun 2008 Pasal 17 huruf G Keterbukaan Informasi Publik.
Semua bukti ada, asli ada, foto ada, rekaman ada, pengakuan ada mereka sengaja tidak mau buka, tidak mau periksa, karena sudah dibeli uang 175 juta.
Saya berjanji: Hidup atau mati, saya lawan demi kebenaran. Kasus ini tidak akan selesai sampai JW dan NSL diadili, sampai penyidik korup dicopot, sampai keadilan ditegakkan. (SM/RED)
